Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional, Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia menyampaikan komitmen kuat untuk terus mendukung inklusi, aksesibilitas, dan penghargaan terhadap keberagaman kemampuan individu.
Momentum ini menjadi pengingat penting bahwa keberagaman bukan hambatan, melainkan bagian dari kekuatan bersama. Dalam pesan reflektifnya, Prodi BK mengangkat kutipan:
“Inclusion begins when we stop assuming who is able and start recognizing that ability exists in many forms, shaped by diversity, strengthened by accessibility, and honored when every person is given space to belong.”
Melalui perspektif Bimbingan dan Konseling, inklusi tidak hanya dipahami sebagai agenda moral atau kebijakan, tetapi sebagai praktik berbasis nilai kemanusiaan—di mana setiap individu diberi ruang untuk berkembang, berpartisipasi, dan dihargai tanpa hambatan fisik, sosial, maupun psikologis.
Peringatan ini turut sejalan dengan komitmen global terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Quality Education dan SDGs 10: Reduced Inequalities, khususnya dalam menciptakan layanan pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan bagi seluruh kelompok berkebutuhan khusus.
Dengan semangat ini, Prodi BK FIP UPI mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus mendorong budaya empati, memperluas akses layanan pendidikan, serta memperkuat peran konselor dalam advokasi dan pemberdayaan penyandang disabilitas—baik di sekolah, komunitas, maupun ruang sosial yang lebih luas.
Inklusi bukan slogan, tetapi komitmen bersama untuk memastikan setiap individu memiliki hak untuk berkembang, dihargai, dan merasa menjadi bagian dari kita.