Sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (Prodi BK FIP UPI) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Internasional di Sabah, Malaysia, pada tanggal 24–27 Juli 2025. Kegiatan ini mengusung tema “Deteksi Dini dan Edukasi: Strategi Diagnostik Perilaku Seksual Remaja di Community Learning Center (CLC) Area Sabah”.
Jumat, 25 Juli 2025 – Kunjungan dan Koordinasi Lapangan
Rangkaian kegiatan dimulai dengan kunjungan ke Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) pada Jumat pagi. Dalam kunjungan ini, tim dari Prodi BK FIP UPI menjalin silaturahmi dan berbagi informasi awal terkait program kerja sama edukatif yang akan dilaksanakan, khususnya dalam mendukung lingkungan belajar yang sehat dan aman bagi remaja di komunitas perbatasan.
Setelah kunjungan, tim melanjutkan perjalanan ke Keningau—daerah yang menjadi lokasi utama pelaksanaan program di Community Learning Center. Setibanya di sana, tim melakukan persiapan teknis untuk kegiatan pelatihan yang akan digelar keesokan harinya.

Sabtu, 26 Juli 2025 – Pelatihan Guru dan Penyuluhan di CLC Keningau
Pelaksanaan kegiatan utama berlangsung pada Sabtu, 26 Juli 2025 di CLC Keningau. Acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan dari Ketua Tim PkM, Dr. Ipah Saripah, M.Pd., serta Ketua Gugus Keningau, Saryanto, S.Pd., Gr. Acara dilanjutkan dengan sesi materi utama yang menghadirkan narasumber ahli dari Prodi BK FIP UPI:
Prof. Dr. Syamsu Yusuf, LN, M.Pd. membawakan materi “Edukasi Reproduksi dan Seksual Sehat dalam Perspektif Islam”. Materi ini menekankan pentingnya pendidikan reproduksi yang tidak hanya berbasis medis-biologis, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai moral dan keagamaan. Dalam perspektif Islam, menjaga diri dari perbuatan yang merusak kehormatan (iffah) menjadi dasar utama. Guru diberikan pemahaman bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam pendekatan edukatif yang komunikatif dan tidak menghakimi, khususnya di lingkungan dengan konteks budaya dan agama yang kuat.


Nadia Aulia Nadhirah, M.Pd. menyampaikan materi “Deteksi Dini Perilaku Seksual Remaja”. Pada sesi ini, pemateri memaparkan tanda-tanda perilaku seksual yang berisiko di kalangan remaja, serta bagaimana guru dapat mengenali dan meresponnya secara preventif. Fokus diberikan pada pendekatan psikososial, di mana guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pengamat dan pelindung dalam keseharian siswa. Termasuk di dalamnya indikator perilaku, dinamika kelompok teman sebaya, dan penggunaan media sosial yang perlu dicermati.
Dr. Ipah Saripah, M.Pd. menyampaikan “Penanganan Pertama (First Aid) untuk Guru”. Materi menekankan pentingnya penanganan awal yang tepat saat guru menghadapi siswa dengan situasi darurat psikologis atau krisis perilaku. Misalnya, saat siswa mengalami pelecehan, tekanan emosional, atau menunjukkan tanda trauma. Guru dilatih untuk tetap tenang, empatik, dan mampu memberikan bantuan awal secara etis, serta tahu kapan dan ke mana merujuk kasus lebih lanjut.

Rina Nurhudi Ramdhani, M.Pd. memaparkan tentang “Membangun Lingkungan Pembelajaran yang Aman dan Inklusif”. Sesi pematerian ini menekankan bahwa sekolah, termasuk CLC, harus menjadi ruang aman secara fisik dan emosional bagi setiap anak. Guru dibekali prinsip-prinsip dasar membangun interaksi yang ramah anak, inklusif terhadap keberagaman latar belakang, serta menciptakan pola komunikasi yang bebas dari kekerasan verbal maupun simbolik. Materi ini juga mengajak guru melakukan refleksi terhadap budaya kelas dan pendekatan disiplin yang digunakan.

Setelah sesi istirahat siang, kegiatan dilanjutkan dengan sesi workshop pengembangan media edukatif yang dipandu oleh tim muda Prodi BK: Faraz Maulana, S.Pd. dan Nur’aini Hasna Hamidah, S.Pd.. Dalam sesi ini, peserta dilibatkan secara aktif untuk mengembangkan media edukatif yang relevan dengan konteks CLC.
Kegiatan ditutup dengan diskusi reflektif, dokumentasi, dan penyerahan administrasi. Di akhir hari, tim kembali ke Kota Kinabalu untuk beristirahat sebelum kepulangan ke Indonesia.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang kontribusi nyata bagi Prodi BK FIP UPI dalam lingkup internasional, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap isu-isu pendidikan dan kesehatan remaja di wilayah perbatasan. Sinergi antara dosen, mahasiswa, dan komunitas lokal menjadi kekuatan utama dalam mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan sehat secara psikososial.
Semoga semangat kolaboratif ini terus menginspirasi kontribusi Prodi BK di tingkat global.
