loader image
Skip to content

Dwi Fitria Ambarina: Menyediakan Paket Bahan Makanan Gantung di Tengah Pandemi COVID-19

Masih belum jelas kapan masa berakhirnya pandemi COVID-19 yang kian hari kian menggerus tatanan kehidupan pada berbagai aspek, membuat hampir setiap orang mengalami berbagai kesulitan. Bahkan, untuk sebagian kelompok orang, membuatnya lumpuh, tidka berdaya! Mereka sulit memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, tidak jarang di antara mereka harus menahan lapar dan dahaga di tengah keterbatasan dan himpitan ekonomi yang semakin hari semakin menekannya.

Kondisi seperti digambarkan di atas telah menginspirasi salah seorang alumni Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia untuk berbagi dengan cara menyediakan paket bahan makanan. Sebetulnya ceriteranya gak aneh, tapi unik! Mengapa? Karena paketnya bahan makanan itu diberikan secara percuma, alias haratis atau gratis, dengan cara digantung di pagar rumahnya. Siapapun yang lewat dan membutuhkannya, tinggal mengambilnya saja paket tersebut dari gantungan pagar rumahnya. Apa saja isi paketnya? Beras, sayuran, dll .

Lebih lanjut, Dwi merangkum kisahnya sebagai berikut.

Kegiatan hias pagar ini bermula ketika saya mendengar berita ada warga yang meninggal karena selama 2 hari hanya minum air galon. Kondisi sulit seperti saat ini membuat banyak warga terhimpit secara ekonomi, bukan hanya di level bawah, tapi juga menggoyahkan level menengah. Kita tidak bisa tahu, meskipun seseorang menggunakan kendaraan bermotor, apakah di rumahnya dia punya beras atau tidak. Hampir semua sektor menjadi lumpuh akibat pandemi corona ini, terlalu banyak pihak yang perlu kita tolong. Penanganan ini akan menjadi sangat berat, jika yang harus bertanggung jawab atas semua ini adalah pemerintah saja.

Saya selaku pegawai yang -walaupun- ditugaskan WFH, namun hak saya tetap ditunaikan oleh pemerintah, saya merasa sangat bersyukur masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga tanpa harus keluar rumah. Sayangnya tidak semua orang seberuntung saya, di luar sana banyak cerita memilukan, entah berapa juta orang yang harus hilang pekerjaan dan penghasilannya karena wabah ini. Melihat mereka berduka, terutama di bulan puasa ini, rasanya saya merasa tak pantas untuk “kenyang” sendirian, sedangkan di luar sana banyak yang mungkin berpuasa tanpa sahur dan berbuka. Lantas saya berpikir bagaimana saya bisa membantu mereka -meskipun sangat sedikit- tapi tetap memperhatikan protokol pencegahan virus corona, sehingga muncul ide yang menurut saya awalnya terlihat konyol, tapi saya tidak menemukan cara lain yang lebih efektif dam efisien, lalu saya menggantungkan makanan di pagar rumah.

Hari pertama saya menggantungkan 6 bungkus paket sayur lodehan (tiap bungkusnya hanya seharga Rp 5.000) harga yang sangat terjangkau bagi saya, akan tetapi bagi mereka yang kesusahan, sayuran itu dapat menyambung hidup mereka untuk 1x makan. Gantungan yang saya buat hari itu habis dalam waktu kurang dari 1 jam. Hari berikutnya saya pasang lagi di pagar, habis juga dalam waktu singkat. Saya berpikir, cara ini sangat sederhana dan efektif untuk menolong sesama, apalagi jika lebih banyak pihak melakukan hal yang sama, akan banyak jiwa yang tertolong. Kegiatan #hiaspagar ini sangat memungkinkan untuk diduplikasi oleh banyak pihak, karena sangat mudah dan murah.

Satu hal terpenting yang saya yakini adalah, sebetulnya kita lah yang perlu bersedekah, karena hati kita perlu cahaya kebaikan.

“Hiasan Pagar” sebagai Sebuah Simbol Bahwa Hati Kita Perlu Cahaya Kebaikan
Menjadi Narasumber Inspiratif bagi Orang Lain
yang Mau Hatinya Selalu Memiliki Cahaya Kebaikan